Cerpen Kayon Buyut

KAYON BUYUT

Keletihan diseluruh tubuh, membuatku ingin cepat cepat sampai di rumah, membayangkan betapa empuknya kasur dirumahku. Langkah semakin ku percepat agar dapat segera sampai dirumah, setibanya aku dirumah, aku mengetuk pintu rumah dengan sangan kencang, namun tidak ada seorangpun yang menyahut ketukanku. pintu rumahku terkunci, jendela – jendela juga tertutup rapat, akhirnya aku memutuskan untuk tidur di halaman rumah dengan berselimut sarung.

Kayon buyut hilang ! Kayon hilang ! Tolong !.
 “Hahhh ?!!?” aku terbangun dengan kondisi terkejut dan setengah sadar.
“Kayon buyut hilang ??!” Aku terbangun dan langsung mencari tahu apa yang sebenanrnya terjadi, “Aku ingat seorang penari ronggeng yang tadi malam menari berasama di balai desa, aku semakin curiga pada mereka, ah tapi tidak mungkin mereka mencurinya, aku kan si Pekacar yang bertugas menyapu, membersihkan kabuyutan desa Smara, aku tak melihat mereka mendekati kayon buyut tadi malam,tapi sang pencuri aslinya ?” . Setelah kejadian yang amat menghebohkan tersebut, Aku berinisiatif untuk mencarinya sendiri, ya aku sendiri yang akan mencarinya.
Aku bergegas mencari menuju suatu pulau yang bernama Pulau Cemani, karena Aku curiga, pencuri kayon buyut bersembunyi disana. Aku berangkat dengan menggunakan kayontambak daun pisang yang Ku ambil dari kebun Mak Sapton. Saat di perjalanan, aku bertemu dengan seekor buaya yang besar, Aku berusaha melawannya menggunakan golok Si Cepot yang kumiliki, Aku bergumul hingga kecebur danau, dan tiba tiba, buaya tersebut menghilang dan berubah wujud menjadi Kang Samedin, Jagabaya desa yang tekenal berkumis baplang dan beralis tebal. “Hebat kamu kacar, ayo Kang Samedin ikut !” kami mulai menuju Pulau cemani bersama sama, namun kami bertemu dengan ular sanca yang sangat besar,Kang Samedin berani melawan“ Kacar,akan ku habiskan ular sanca ini!” Kang Samedin bergumul dengan ular sanca tersebut, dia di lilit seperti ular Nagabanda bersama Bima. Aku lemparkan golok Cepot ku, Kang Samedin menangkap dengan sangat terampil, sia membacok kedua Mata ular sanca tersebut “crak, crak” tiba tiba, ular sanca tersebut menhilang dan berubah wujud menjadi sawitri anak di desa Smara
Kami berangkat bersama menuju Pulau Cemani, dengan berbekal obor ditangan Kami, tiba tiba kami melihat bayangan seorang laki laki tinggi besar, berambut panjang, dan berikat kepala sabrangan, Kang Samedin bertanya padaku “kamu tahu orang itu ?” , “aku tidak tahu Kang” jawabku, tiba tiba laki laki tersebut memanggil kami “hei, kenapa kalian grundang grendeng di tempat gelap ? Mari berhimpun di ali unggun” Kami mendekatinya dengan sangat hati hati, kumisnya sangat tebal, jenggotnya mwnggayut kuat di dagunya.
 “perkenalkan, namaku Sadagora” “kalian sangat berani datang kw pulau cemani ini, padahal ini adalah pukau yang keramat, dan tidak ada yang berani datang kemari.” Ucap Sadagora
“kami berani ! Kamu ya yang mencuri kayon buyut ?!” Tanya Sawitri “benar !” “ tapi kenapa kamu curi ?” tanyaku penasaran. “ Aku mencuri Kayon Buyut karena selama ini hanya dipandang dan dikagumi, tidak dimaknai seperti dulu oleh Dalang Panjimas. Dalang yang mengajarkan nilai-nilai adiluhung kepada semua orang, buka Kayon dengan indah, menampilkan lakon yang penuh simbol manusia yang beragam, tapi intinya yang jahat dan yang baik, juga ada yang munafik. Tokoh-tokoh wayang yang membayang-bayang diperkeliran sebagai cermin kehidupan. Sampai akhirnya tancap Kayon dengan mantap, di mana penonton pulang dengan riang, besoknya bekerja di sawah, di ladang dengan riang. Cah angon memandikan kebo-kebonya dengan senang. Pa Tani dan Bu Tani mengolah sawahnya dengan senang. Peladang datang keladangnya dengan senang. Pedagang pergi ke pasar berdagang dengan senang. Semua senang. Benar begitu kan ?” Kami terpukau dengan omongan Sadagora yang melihat wayang sebagai cermin kehidupan. Kemudian dia melanjutkan lagi bicaranya. “ Dalang Panjimas meninggal dunia, wayangnya bukan dijaga dan disimpan di pewarisnya, malah dijual lalu uangnya dibagi-bagi, untunglah seorang pembuat Jamu Mbok Tambi yang kemudian menikah dengan Karjan menawar Kayon milik dalang Panjimas dari tengkulak barang antik, semua tabungannya berpindah pada tengkulak itu. Lalu Mbok Tambi membuatkan cungkup Cupumanik di dalam komplek Buyut Smara. Karena dia anaknya Jurukunci Buyut Smara Mbah Legawa. Sejak itu Kayon itu disebut Kayon Buyut. Kami melongo tak dapat bicara. apa-apa. Sadagora tahu betul sejarah perjalanan Kayon Buyut.
“Jadi kalau aku curi Kayon Buyut untuk membuat orang desa Smara sadar tentang arti Kayon! “ sahut Sadagora
“Lihat apa yang terdapat dalam Kayon ! Kalian amati baik-baik ! Kayon Gapuran ini diapit dua buta yang membawa gada atau pedang tameng kelihatan bagus. Ini artinya apa ? Bukan untuk menakut-nakuti, tapi untuk menjukan bahwa gapura harus dijaga, pintu menuju surga, dengan kekuatan gada, pedang dan tameng artinya tekad yang kuat, sekuat gada, sekuat tameng, dan setajam pedang. Pepohonan yang menuju ke atas, rindang dan bercabang cabang, artinya sejarah kehidupan yang bercabang-cabang. Pepohonan bertumpuk karena sejarah juga bertumpuk, sambung menyambung menjadi satu. Kalau dipandang supaya kelihatan pisah, bisa berbeda dengan gambar lainnya. Gambar pepohonan besar ini dibawahnya bersambung dengan gambar kolam berair jernih, ada ikan berenang senang dan bahagia. Air lambang kehidupan, dan ikan lambang penghuninya. Di kiri kanan terlihat gunung gunung dengan pepohonan yang menunjukan naik turunnya pegunungan, llau dibatasi melingkar tepung gelang, jadi seperti bentuk gunung, karena itu Kayon suka disebut Gunungan. Lalu binatang-binatang yang hidup sebagai satwa, ciptaan Tuhan. Beragam dan indah, ada Banteng, ada harimau, ada monyet, Tuhan menciptakan mahluk lainnya selain manusia, yang harus dijaga dan dilindungi. Dan akhirnya sampai keujungnya, perjlanan sejarah manusia akhirnya tiba, pupus.” Aku menatap kagum pada Sadagora. Kami bertiga saling pandang, lalu seperti sama pertanyaannya. Siapakah Sadagora ini ?.
“Huwaa !! Basahh !!” Aku melompat dari kursi terasku. “Dasar anak gungclo, habis nonton wayang malam malam jadi lupa sembahyang, sudah Sana pergi ke kabuyutan wak karjan menunggunmu disana.”. Aku Masih bekum sadar betul dan lalu membayangkan mimpi ku ini, akan kutanyakan oada wak Karjan Jurukunci Kabuyutan.
 Sesampainya disana Aku menceritakan Semua kejadian tersebut pada Wak Karjan.” Wak kenal orang yang bernama Sadagora ?” , Wak Karjan menyahut “Sadagora, Sadagora ? Kamu dengar darimana ? “. Aku menjawab “ Kesiangan bangun akibat nonton wayang di desa Paron, aku mimpi buruk, Kayon buyut dicuri. Lalu aku ingat pulau Cemani di tengah danau Seta. Aku mendengar suara Wak, Ramatambak-Kayontambak. Lalu aku dibantu Kang Samedin jagabaya yang tadinya Bajul, Juga sawitri cah angon yang tadinya Ular. Kami pergi ke pulau Cemani dengan tambak daun pisang. Kami bikin obor, sampai di pulau Cemani, kami mengendap-endap, dan obor dipadamkan. Tiba-tiba terlihat ada lelaki tinggi besar, yang duduk dekat api unggun, tahu kehadiran kami. Kami dipanggilnya, matanya tajam, kumisnya lebih tebal dari Kang Samedin Jagabaya, berjenggot lebat seperti pertapa.
“Dia Sadagora !” pekik Wak Karjan “ Iya dia
bernama Sadagora !” Aku memastikan, lalu Wak Karjan mulai menjelaskan  siapa sebenarnya Sadagora itu. “Sadagora julukan kepada Eyang Panjimas, dalang adiluhung yang meninggal di desa Smara ini. Suaranya memikat, karena itu dia dijuluki masyarakat Sadagora, Sada artinya suara, Gora artinya besar. Kamu beruntung, kamu bakal dapat pulung !”

Dua hari kemudian, Ngunjung Buyut di Kabuyutan Smara tiba, khidmat dan ramai. Aku benar-benar mendapat pulung, aku dipanggil ke kecamatan jadi pemuda pelopor.

Cerita ini diadaptasi dari naskah monolog Kayon, karya Arthur S Nalan

Komentar